Beritabalionline.net – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gianyar Ida Bagus Gaga Adi Saputra menyoroti Kebijakan Pemkab Gianyar tentang pemberlakuan pemilahan sampah dari rumah tangga atau sumber per 1 Mei 2024, ternyata tak serta merta dapat mengatasi persoalan sampah di bumi seni tersebut.
Sebab kenyataannya banyak sampah dengan berbagai jenis, terutama di wilayah Kota Gianyar dan sekitarnya tak terangkut. Dampaknya, lingkungan sekitar berbau busuk hingga tampak jorok. Kota Gianyar yang semestinya asri kini terkesan darurat sampah.
Wakil rakyat yang akrab disapa Gus Gaga ini mengaku menerima pengaduan dari sejumlah masyarakat baik melalui WhatsApp, Messenger, hingga telepon langsung. Kepada dirinya, masyarakat minta untuk difasilitasi terkait penyelesaian masalah persampahan tersebut.
Sebab sejak pemberlakuan pemilahan sampah dari sumber tersebut per 1 Mei, banyak sampah tak diambil petugas. Padahal sampah-sampah itu sudah dalam keadaan terbungkus bahkan sudah dipilah.
‘’Karena lama tidak diambil oleh petugas, makanya sampah itu jadi bau dan berserakan karena bungkusannya dibongkar anjing, terutama sisa-sisa makanan,’’ katanya, Senin (13/5/2024).
Gus Gaga mengaku, atas informasi dan laporan dari masyarakat tersebut, dirinya pun mencoba mencari tahu penyebab sebenarnya ke lapangan.
Ternyata beberapa penyebab atas persoalan sampah tersebut, diantaranya banyak titik-titik kumpul sampah yang sampahnya tak diambil petugas.Terutama di rumah kos atau sewaan di Kota Gianyar dan sekitar. Karena sampah tak diambil petugas, maka banyak warga membawa sampahnya ke ujung jalan dan gang, dengan harapan jauh dari depan rumah dan mudah diambil petugas.
Nyatanya upaya itu tidak membuat sampah itu lekas diambil oleh petugas sehimgga sampah pun menumpuk. Kondisi itu tak hanya tampak di perkotaan Gianyar, juga di luar kota.
Di wilayah di Semabaung, selatan Patung Dewi Kadru, misalnya sampah numpuk hingga berbau menyengat. “Dampaknya, keadaan jadi kian parah karena sampah seperti terbiarkan. Ini sepertinya jadi persoalan yang membutuhkan solusi cepat dan darurat dari Pemkab,” lanjut mantan Sekda Gianyar tersebut.
Gus Gaga menambahkan persoalan pengelolaan sampah ini harus dilakukan evaluasi secara komprehensif, baik dari sisi tenaga dan armada pengangkut sampah, jadwal pengangkutan hingga pengelolaan di TPA Temesi.
“Kita semua mesti terbuka, apakah tenaga yang kurang, atau juga armada pengangkut yang perlu diremajakan bahkan ditambah, kesemuanya membawa konsekuensi beban anggaran yang seyogyanya sudah saatnya menjadi skala prioritas,” lanjutnya.
Atas persoalan sampah tersebut, Gus Gaga pun minta kepada Pj Bupati Gianyar dan jajaran DLH untuk segera mencarikan solusi. Karena Gianyar salah satu kota budaya di Bali yang terkenal dengan pariwisata budaya dengan tanpa menafikan kebersihan lingkungan.
Ia juga menyarankan agar Pemkab Gianyar lebih meningkatkan koordinasi kepada pihak terkait di lapangan, termasuk kepala dusun dan kepala desa (perbekel), kepala lingkungan dan lurah, untuk peningkatan kualitas penanganan sampah ini.
Disamping itu, Gus Gaga menyarankan agar DLH meninjau ulang jadwal pengangkutan sampah yang selama ini dirasa kurang pas.
’Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja manajemen dan tata kelola persampahan ini mesti dibenahi secara terus menerus sesuai kebutuhan dan perkembangan di lapangan. Apalagi pilah sampah merupakan hal baru diterapkan Pemkab Gianyar,” sambung Gus Gaga.
Ia sendiri menilai upaya pemilahan sampah ini sangat bagus, dan kebijakan ini patut diapresiasi. Tapi yang jadi masalah adalah jadwal angkut sampah.
“Seyogyanya setiap hari diangkut. Tidak hanya perencanaan dan program yang matang, namun juga strategi yang harus ditopang dengan peralatan, tenaga, dan anggaran yang sangat memadai,’’ pungkasnya. (yaw)








