Beritabalionline.net – Belasan tahun hidup sebatang kara, Ni Nyoman Tumbuh (70) tidak bisa menikmati masa tuanya dengan tenang dan nyaman. Ia justru merasa kesepian karena kondisi rumahnya yang jauh dari kata layak di Banjar Saraseda, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar.
Selama 12 tahun terakhir, Nenek Tumbuh dirawat oleh warga satu Banjarnya. Ia tidak memiliki sanak keluarga satu pun. Sehingga untuk bertahan hidup biasanya ada warga yang datang memberikan sembako berupa beras maupun keperluan lain termasuk membanten canang di rumah pekarangan Nenek Tumbuh.
Nenek Tumbuh mengaku setiap hari selalu sedih karena merasa kesepian dan harus tinggal sendirian. Apalagi di malam hari, suasana rumahnya sangat sepi dan sunyi. Apalagi rumahnya tersebut tidak dikelilingi oleh penyengker atau tembok rumah. Hal itu menambah kesepian hidupnya.
Namun ia memiliki beberapa ekor anjing yang menemaninya. “Anjing kesayangan saya yang warna poleng (putih hitam,Red). Saya ajak tidur, saya kasi makan, saya ajak tidur,” katanya menggunakan bahasa Bali saat awak media menfunjungi rumahnya, Senin (29/5/2023).
Sementara itu, Bendesa Adat Saraseda, I Wayan Mudita, menuturkan bahwa salah satu warganya itu sudah hidup merana sejak usia 10 tahun. Ketika itu kedua orang tua Nenek Tumbuh meninggal dunia, kemudian disusul meninggalnya saudara kandung laki-lakinya semasih usia remaja.
Keterbatasan ekonomi yang dialami Nenek Tumbuh membuat dirinya tak pernah berkesempatan mengenyam pendidikan. Ia pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia bekerja serabutan misalnya ngedig padi. Namun seiring berjalannya waktu, tenaganya tidak lagi kuat untuk bekerja.
“Jadi sekitar 5 tahun lalu warga saya ini mengalami kecelakaan dan kemungkinan kakinya patah. Jadi sejak saat itu beliau tidak bisa banyak beraktivitas, padahal sebelum kecelakaan itu beliau tipe orang yang cukup aktif,” terangnya.
Dan 12 tahun terakhir, Nenek Tumbuh mulai dirawat oleh warga di Banjar Saraseda. Hal itu dilakukan sesuai kesepakatan warga setempat. “Awalnya itu ada penyampaian secara lisan oleh kerabat yang masih ada hubungan keluarga dengan beliau kepada Prajuru setempat. Jadi istilahnya sudah diserahkan ke Banjar, dan kami warga satu Banjar yang secara suka rela merawat beliau, ya berdasarkan kemanusiaan,” imbuhnya.
Disamping itu pihaknya juga memprioritaskan bantuan yang memungkinkan didapatkan oleh Nenek Tumbuh. “Kalau ada bantuan-bantuan dari pihak luar, kami prioritaskan beliau. Termasuk BLT yang besarnya Rp 300.000,” sambungnya.
Termasuk saat ada bantuan bedah rumah dari Polres Gianyar. Pihaknya memprioritaskan untuk Nenek Tumbuh. Sebab kondisi rumah Nenek Tumbuh sudah sangat memprihatinkan. (yaw)






