JAKARTA, BERITABALIONLINE.net – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana baru yang terjadi selama dua hari yakni 30 April 2026 hingga 1 Mei 2026.
“Dalam kurun waktu tersebut, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem, dan angin kencang masih mendominasi di beberapa wilayah Indonesia,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam siaran pers, Jumat (1/5/2026).
Pihak BNPB mengingatkan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah Indonesia, di antaranya barat Sumatra, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.
Fenomena ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan serta intensitas curah hujan di wilayah sekitarnya.
Selain itu, pola angin yang dipengaruhi oleh aliran dari Australia dan Pasifik, serta adanya pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi), turut memperkuat potensi terbentuknya awan hujan di berbagai daerah.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, antara lain Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku, dan Papua Tengah.
“Pada beberapa wilayah lain berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang, meskipun secara umum cuaca cerah berawan masih dapat terjadi dengan potensi hujan lokal pada siang hingga malam hari,” tuturnya.
Dijelaskan, upaya kesiapsiagaan yang baik, termasuk penyusunan rencana evakuasi keluarga dan penyediaan perlengkapan darurat, menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana.
BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal serta keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Dengan adanya kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor diharapkan secara rutin memantau kondisi lingkungan, membersihkan saluran air, serta segera melakukan evakuasi mandiri jika terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda bahaya.
“Masyarakat juga diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD setempat sebagai acuan dalam mengambil langkah antisipasi,” ucapnya. (agw)








