DENPASAR, BERITABALIONLINE.net – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi dibuka dengan sorotan tajam pada masa depan kebudayaan Pulau Dewata. Gubernur Bali, I Wayan Koster, menegaskan bahwa ajang tahunan terbesar di Bali ini bukan sekadar ruang pementasan estetika semata, melainkan instrumen fundamental bagi keberlangsungan, pewarisan, dan regenerasi pelaku seni secara langsung dari generasi ke generasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Koster setelah menyaksikan langsung keterlibatan aktif anak-anak usia sekolah—mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD)—yang tampil memukau dalam Tari Pendet pembuka di Taman Budaya Art Center, Denpasar, Sabtu malam.
“Kehadiran anak-anak muda beserta anak-anak usia dini menunjukkan regenerasi pelaku seni dan budaya di Bali telah terjadi secara langsung dan berkelanjutan. Mereka mampu bertahan bahkan berkembang semakin maju dalam menghadapi dinamika lokal, nasional, dan global,” ujar Koster dengan nada optimis.
Koster meyakini, dengan ekosistem kesenian yang terus tumbuh lewat festival seperti PKB, seni budaya Bali tidak akan pernah mati. Fenomena hidupnya regenerasi ini, lanjut dia, berjalan selaras dengan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan: 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125).
Hal yang membahagiakan dan membanggakan bagi kita semua, PKB tidak saja secara aktif diikuti oleh anak-anak muda, tetapi juga anak-anak usia dini. Mereka berpartisipasi dengan berbagai karya menarik, unik, serta mampu tampil memukau. Itu luar biasa, tepuk tangan untuk anak-anak kita,” tambahnya yang disambut gemuruh tepuk tangan penonton.
Antusiasme penonton di arena pembukaan PKB XLVIII ternyata bergaung kuat di jagat maya. Berdasarkan pantauan di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok, potongan video penampilan penari cilik saat membawakan Tari Pendet massal langsung viral dan menuai decak kagum warganet.
Banyak netizen memuji kedisiplinan dan keluwesan para penari usia dini tersebut. Sebagian besar komentar menyatakan rasa haru dan bangganya karena anak-anak zaman sekarang—yang lekat dengan gawai—masih memiliki kecintaan yang begitu besar terhadap seni tradisi.
”Kecil-kecil matanya sudah bisa ‘nyeledet’ dengan sempurna. Bali tidak akan pernah kehabisan seniman kalau sejak TK sudah sekeren ini,” tulis salah satu akun di kolom komentar takarir viral PKB 2026.
Dukungan digital ini menjadi bukti valid di lapangan bahwa eksistensi seni budaya di Bali tidak akan pernah redup, melainkan terus tumbuh adaptif menghadapi arus dinamika zaman.
Melibatkan Ratusan Sanggar dan Puluhan Ribu Seniman
Pada pelaksanaan tahun 2026 ini, PKB mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Saking Parisuda”, yang mengandung makna filosofis untuk memuliakan jiwa yang paripurna. Esensi tema tersebut diwujudkan melalui penguatan tiga pilar utama Bali secara harmonis: alam, manusia, dan kebudayaan Bali.
Festival kebudayaan yang akan berlangsung satu bulan penuh mulai dari 13 Juni hingga 11 Juli 2026 ini mencatatkan angka keterlibatan masif. Tidak kurang dari 23.936 orang seniman dipastikan ambil bagian.
Seluruh seniman tersebut terwadahi dalam 307 sekehe, sanggar, maupun yayasan kesenian yang mencakup skala lokal, nasional, hingga internasional.
10. Agenda Utama PKB XLVIII 2026
Untuk memanjakan masyarakat dan wisatawan, panitia telah menyiapkan 10 agenda utama yang disajikan sepanjang satu bulan penuh pelaksanaan festival:
1. Peed Aya (Pawai)
2. Rekasadan (Pergelaran)
3. Kandarupa (Pameran)
4. Utsawa (Parade)
5. Wimbakara (Lomba)
6. Kriya Loka (Lokakarya)
7. Widyatula (Sarasehan)
8. Adi Sewaka Nugraha (Penghargaan Pengabdian Seni)
9. Jantra Tradisi Bali (Ruang apresiasi kearifan lokal dan permainan tradisional)
10. Bali World Culture Celebration (BWCC)
Melalui agenda terakhir (BWCC), PKB XLVIII tidak hanya menjadi milik masyarakat lokal, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai pusat kebudayaan dunia (Padma Bhuana) yang menghubungkan diplomasi budaya antarnegara. (*/bbo)






