DENPASAR, BERITABALIONLINE.net – Dinas Pariwisata (Dispar) Bali memastikan wisatawan tidak perlu khawatir berlebihan untuk berlibur ke Pulau Dewata menyusul peringatan kesehatan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat terkait virus Zika di Bali.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bali I Wayan Sumarajaya mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyikapi peringatan kesehatan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) terkait virus Zika. Berdasarkan informasi yang diterima, hingga saat ini belum terdapat laporan kasus Zika di Bali.
“Terhadap hal ini kami sudah koordinasi dengan dinas terkait. Berdasarkan penjelasan Dinas Kesehatan Provinsi Bali bahwa di Bali sendiri belum ada laporan kasus Zika,” ujar Sumarajaya saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8/2026).
Meski belum terdapat laporan kasus, Sumarajaya mengingatkan wisatawan untuk tetap menerapkan langkah pencegahan selama berada di Bali. Menurutnya, sebagai wilayah tropis, kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui nyamuk tetap diperlukan, termasuk dengan mencegah gigitan nyamuk seperti dalam upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD).
“Karena kita berada di negara tropis, penting untuk pencegahan, sama seperti DBD. Jadi wisatawan tetap waspada agar terhindar dari gigitan nyamuk,” katanya. Wisatawan diimbau melindungi diri dari gigitan nyamuk selama bepergian. Pelaku usaha pariwisata dan seluruh unsur terkait juga diminta tetap memberikan pelayanan terbaik dengan memperhatikan aspek kesehatan dan kenyamanan wisatawan.
Sumarajaya menegaskan, peringatan kesehatan CDC tersebut tidak seharusnya menimbulkan kekhawatiran berlebihan terhadap Bali sebagai destinasi wisata. “Saya berharap para wisatawan tidak takut untuk datang ke Bali, karena Bali aman dan nyaman untuk berlibur,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes. Ia membenarkan hingga saat ini belum ada laporan kasus Zika di Bali. “Kalau di Bali sendiri belum ada laporan kasus Zika. Karena negara tropis, jadi wisatawan diimbau untuk waspada bila bepergian. Suatu hal yang wajar,” ujarnya.
Raka Susanti menjelaskan, salah satu langkah pencegahan utama terhadap Zika adalah menghindari gigitan nyamuk. Virus Zika dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes yang juga menjadi vektor sejumlah penyakit lain, termasuk DBD.
Sebelumnya, CDC pada 7 Agustus 2026 menerbitkan Travel Health Notice Level 2 untuk Zika di Indonesia dengan perhatian khusus terhadap Bali. CDC menyebut adanya laporan kasus Zika pada pelaku perjalanan yang kembali dari Bali dan meminta wisatawan menerapkan langkah pencegahan terhadap gigitan nyamuk serta penularan seksual selama dan setelah perjalanan.
CDC juga menyebut infeksi Zika umumnya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak menimbulkan gejala. Namun, infeksi Zika selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir pada janin. Karena itu, perhatian khusus diberikan kepada wisatawan yang sedang hamil maupun yang sedang merencanakan kehamilan.
Adapun Level 2 dalam klasifikasi CDC, yakni Practice Enhanced Precautions, berarti wisatawan diminta menerapkan langkah pencegahan tambahan. Status tersebut berbeda dengan Level 3 yang berisi pertimbangan untuk menunda perjalanan yang tidak penting, maupun Level 4 yang merekomendasikan untuk menghindari seluruh perjalanan.
Dengan demikian, peringatan Level 2 tersebut bukan merupakan larangan perjalanan ke Bali. Peringatan tersebut lebih menekankan peningkatan kewaspadaan serta penerapan langkah pencegahan selama dan setelah melakukan perjalanan.
Wisatawan juga disarankan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Apabila mengalami gejala seperti demam, ruam, sakit kepala, nyeri sendi atau otot, maupun mata merah selama atau setelah perjalanan, wisatawan dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan medis. (**)






