DENPASAR, BBO.net – Di tengah maraknya konten media sosial yang menyampaikan keluhan atas pelaksanaan yadnya dalam agama Hindu yang dinilai ribet dan memberatkan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar hadir memberi solusi, dengan menggelar manusa yadnya bersama. Itu disampaikan Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka didampingi Ketua Panitia, AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, Rabu (16/9/2026), di sela-sela rapat persiapan di Sekretariat PHDI Kota Denpasar.
‘’Adanya anggapan bahwa yadnya dalam agama Hindu itu ribet dan memberatkan kami jawab dengan pelaksanaan manusa yadnya bersama ini,’’ jelas Ketua PHDI Denpasar, I Made Arka.
Dikatakan, upacara ini dilaksanakan sebagai upaya memberikan pelayanan kepada umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya. “Upacara Menek Kelih, Pewintenan Saraswati dan Metatah Massal digelar sebagai upaya meringankan umat Hindu dalam menuntaskan kewajiban manusa yadnya kepada anak-anaknya,” ujarnya.
Made Arka menegaskan, pelaksanaan manusa yadnya secara bersama selain sebagai perwujudan spirit gotong royong Vasudhaiva Kutumbhakam, juga sebagai upaya menepis anggapan bahwa yadnya itu mahal dan ribet. “Dengan semangat bergotong royong, umat dapat mengikuti upacara manusa yadnya ini dengan ringan dan mudah tidak ribet,” jelasnya.
Besaran punia untuk mengikuti upacara yang cukup penting dalam tahapan kehidupan manusia ini diserahkan kepada kerelaan dan keikhlasan umat. “Punia yang diberikan sejatinya sebagai wujud bhakti persembahan kepada para leluhur yang turun kepada anak-anak kita sehingga besarannya disesuaikan dengan kemampuan,” tegas Made Arka lagi. Harapannya terjadi subsidi silang, di mana yang mampu mepunia lebih dapat membantu yang kurang mampu.
Selain solusi untuk meringankan umat, Manusa Yadnya Bersama ini juga menjadi solusi bagi warga perantauan atau warga transmigran yang tidak menjadi warga di wilayah desa adat di Bali dan Kota Denpasar. Selain itu pihaknya juga membuka peran serta masyarakat dan swasta melalui donasi dan sponsorship. “Panitia juga turut urunan mepunia untuk bergotong royong memberi pelayanan kepada umat,” ujar penggemar olahraga beladiri ini.
Ketua Panitia, AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama berharap kepada para peserta agar mengenakan busana sembahyang sederhana berupa pakaian putih-kuning madya, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. “Pedoman pakaian dibuat sebagai upaya kebersamaan dan kesederhanaan, agar inti pelaksanaan yadnya dapat berlangsung dengan khidmat dan penuh bhakti,” ujar pria yang akrab disapa Turah Bima itu.
Mengenai hal teknis terkait acara akan disampaikan langsung kepada peserta saat teknical meeting sebelum pelaksanaan. “Para peserta yang terdaftar juga akan dimasukkan ke dalam grup WA untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi,” jelasnya.
Panitia mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh peserta untuk memastikan kelancaran dan keberhasilan acara ini. Ada pun pemuput upacara melibatkan pinandita yang berasal dari berbagai soroh atau pasemetonan di Bali. Keberadaan mereka akan memberikan nilai sakral dan keberagaman pada acara ini. “Semua informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi sekretariat panitia. Mari bersama-sama menjaga keharmonisan dalam menjalankan ibadah dan tradisi keagamaan,” jelasnya.
Rencananya manusa yadnya ini akan diselenggarakan di Wantilan Pura Lokananta Denpasar, Sabtu 3 Oktober 2026. Pihaknya membuka pendaftaran kepada seluruh umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya. Bagi umat yang ingin mengikuti upacara manusa yadnya ini agar menghubungi kontak: 0857-9265-5761/Tu Riska dan 0857 9266 5761/Esa. (bbo/kar)








