DENPASAR, BBO.net- Pemerintah Provinsi Bali menerima hibah 11 unit bus listrik beserta enam unit infrastruktur pengisian daya dari Pemerintah Korea Selatan. Bantuan ini menjadi bagian dari kerja sama pengembangan transportasi ramah lingkungan melalui proyek Bali E-Mobility.
Penyerahan hibah sekaligus peresmian bus listrik dan infrastruktur pengisian daya tersebut berlangsung di Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, pada Kamis (22/10/2026). Hibah diberikan melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mendukung pengembangan mobilitas bersih di Bali.
Menanggapi pemberian hibah tersebut, Koster menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Korea atas realisasi kerja sama tersebut. Menurut dia, bantuan bus listrik sejalan dengan arah pembangunan Bali yang berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia.
Dalam Kesempatan itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengajak masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai untuk menekan polusi udara, mengurangi kebisingan, serta menghemat biaya transportasi.
Hibah diberikan melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mendukung pengembangan mobilitas bersih di Bali.
Koster menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Korea Selatan atas realisasi kerja sama tersebut. Menurutnya, bantuan bus listrik sejalan dengan arah pembangunan Bali yang berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia.
Digaskan, penggunaan energi bersih menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan Bali. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, pengembangan pertanian organik, hingga penggunaan energi bersih dan kendaraan listrik.
“Di bidang transportasi dan energi, dari hulu sampai hilir juga harus menggunakan energi bersih,” ujar Koster.
Hibah diberikan melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mendukung pengembangan mobilitas bersih di Bali.
Ia menegaskan, penggunaan energi bersih menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan Bali. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, pengembangan pertanian organik, hingga penggunaan energi bersih dan kendaraan listrik.
“Di bidang transportasi dan energi, dari hulu sampai hilir juga harus menggunakan energi bersih,” ujar Koster, seraya menambahkan, Pemprov Bali telah memiliki regulasi untuk mendorong penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019.
Namun, lanjut dia, implementasinya belum berjalan maksimal karena pandemi Covid-19 dan proses pemulihan setelahnya. Pada periode kedua kepemimpinannya, Koster menyatakan akan mempercepat penerapan kebijakan kendaraan listrik di Bali.
Ia mengungkapkan, berdasarkan kajian yang disampaikannya, lebih dari 90 persen polusi udara di Bali bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil.
Karena itu, peralihan ke kendaraan listrik dinilai penting untuk menjaga kualitas udara sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. Koster juga membandingkan biaya perjalanan menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak dan mobil listrik.
Berdasarkan pengalamannya, perjalanan pulang-pergi Denpasar–Singaraja menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak menghabiskan sekitar Rp500 ribu. Sementara itu, dengan mobil listrik, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp140 ribu.
“Jauh lebih efisien, tidak ada suara, tidak ada polusi udara, tidak ada polusi suara, dan kita tidak perlu lagi pakai oli,” ungkapnya, seraya menilai
penghematan biaya operasional menjadi salah satu alasan masyarakat perlu mempertimbangkan kendaraan listrik.
Selain mobil listrik, Koster berharap penggunaan sepeda motor listrik juga meningkat karena kendaraan roda dua masih menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Bali.
Koster mengajak pemerintah kabupaten/kota, pemerintah pusat, pelaku usaha, dan masyarakat bersama-sama mempercepat peralihan tersebut.
“Ayo ramai-ramai kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai. Agar alam ini bersih dan kehidupan menjadi sehat,” ajaknya. (*/bbo)








