Gubernur Koster akan Sediakan 20 Bus Listrik Denpasar-Buleleng

oleh
oleh
Gubernur Bali Wayan Koster saat meresmikan pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E, di Buleleng, Selasa (29/8/2023). (FOTO: Istimewa).

Beritabalionline.net – Jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E mulai dibangun. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking oleh Gubernur Bali Wayan Koster pada Selasa (29/8/2023). Pembangunan jalan pintas Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E itu direncanakan rampung pada 18 Juni 2024.

GubernurKoster bakal menyiapkan bus bagi warga Buleleng yang hendak pergi ke Denpasar jika jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani telah rampung dibangun. Layanan angkutan umum itu akan menggunakan bus bertenaga listrik bantuan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Koster mengatakan Kemenhub akan memberikan 20 bus listrik untuk Bali. “Busnya menggunakan baterai supaya ramah lingkungan, saya sudah minta ke Pak Dirjen Perhubungan Darat untuk mendukung transportasi di Bali,” ujarnya, saat memberikan sambutan dalam peletakan batu pertama, Selasa (29/8/2023).

Koster menjelaskan penyediaan bus dengan rute Buleleng-Denpasar untuk menekan migrasi penduduk dari Buleleng ke Denpasar. Sebagian besar penduduk Denpasar merupakan warga Buleleng dan Karangasem yang bekerja di Ibu Kota Provinsi Bali tersebut.

“Ini (bus) bisa mengurangi laju perpindahan penduduk dan mengurangi kepadatan penduduk,” tutur politikus PDI Perjuangan tersebut.

Menurut Koster, harga tanah dan rumah di Denpasar sudah mahal. Harga sewanya juga tinggi. Walhasil, lebih meringankan jika ada bus yang bisa menunjang para pelaju tersebut. Koster belum membeberkan tarif tiket bus tersebut. Namun, operasional bus Denpasar-Buleleng itu akan disubsidi.

Sebelumnya, Koster bakal menyiapkan bus antar jemput di rute Buleleng-Denpasar seusai pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani titik 10 rampung. Menurut Koster, kehadiran shortcut memperlancar arus kendaraan dari Singaraja menuju Mengwitani, Badung. Kehadiran jalan tersebut juga akan berimbas positif bagi sektor pariwisata Bali, terutama di Bali Utara.
Dulu, Gubernur Koster melanjutkan, jalan dari Denpasar-Singaraja tikungannya tajam. Kontur jalan juga naik dan turun. “Kalau (rem) blong, bisa masuk jurang,” tutur politikus PDI Perjuangan tersebut.

Setelah pembangunan jalan pintas titik 7D dan 7E rampung, Koster melanjutkan, pemerintah akan meneruskan pembangunan di titik 9 dan 10 pada 2025. Adapun, titik 11 dan 12 dibangun pada 2025-2026. Direktur Pembanungan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Wida Nurfaida, mengungkapkan pembangunan shortcut titik 7D dan 7E ini bertujuan mengurangi jumlah tikungan yang semula 50 menjadi 17 tikungan. Pembangunan jalan pintas itu juga untuk mengurangi tingkat kelandaian dari 27 persen menjadi 10 persen.

Wida menjelaskan shortcut 7D dan 7E memiliki panjang 555 meter yang terdiri dari panjang jalan 400 meter dan jembatan 155 meter. “Pembangunan jalan ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan,” ujarnya. Wida menambahkan biaya dalam pembangunan dua titik shortcut ini mencapai Rp 89,09 miliar. Adapun kontraktor penyedia jasa dalam pembangunan shortcut 7D dan 7E adalah PT Sinar Bali dan Agung KSO.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meresmikan shortcut Mengwitani-Singaraja. Peresmian itu ditandai dengan penandatanganan prasasti di titik 8. Jalan Nasional Mengwitani-Singaraja menghubungkan Bali selatan dengan Bali utara. Pembangunan jalan pintas itu baru selesai sebagian yakni pada titik 3, 4, 5, 6, 7A, 7B, 7C, dan 8 dengan panjang 5,68 kilometer. Anggaran pembangunannya bersumber dari APBN senilai Rp396,7 miliar selama tahun 2018-2022. (knk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.