Beritabalionline.net – Ogoh-Ogoh merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Nyepi. Ogoh-Ogoh melambangkan Bhuta Kala, atau kekuatan negatif yang harus dinetralisir sebelum memasuki tahun baru Caka agar keseimbangan alam tetap terjaga. Sebagai bagian dari integrasi budaya, Nuanu Social Fund bersama Karang Taruna GAPERA menjembatani komunitas di Nuanu untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan Ogoh-Ogoh bersama warga Desa Beraban. Sesi ngayah diadakan satu hingga dua kali seminggu di berbagai Banjar.
“Budaya Bali memiliki pengaruh yang kuat bahkan di luar batas area Bali,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director, Nuanu dalam siaran pers tertulis yang diterima di Denpasar, Selasa, 25 Maret 2025.
“Melalui proses ngayah, kami tidak hanya berbagi keterampilan dan tradisi—kami ingin membangun pemahaman dan rasa memiliki yang lebih dalam terhadap warisan budaya ini,” imbuhnya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman mendalam bagi peserta untuk mengenal lebih dekat filosofi budaya Bali, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antara masyarakat lokal dan komunitas global. Lebih dari sekadar apresiasi terhadap tradisi, inisiatif ini menegaskan Nuanu sebagai bagian dari Bali secara fisik, budaya, dan spiritual.
Setiap Banjar di Desa Beraban menciptakan Ogoh-Ogoh dengan tema yang unik, melambangkan berbagai aspek kehidupan dan nilai filosofis Hindu. Secara keseluruhan, beberapa karya yang menarik perhatian tahun ini meliputi Sakshi Lila Maya karya Banjar Batugaing Kaja yang menggambarkan sosok Dewi sebagai saksi perubahan zaman, mengamati siklus kehancuran dan kebangkitan dunia. Tema ini merefleksikan realitas kehidupan yang penuh dengan ilusi duniawi (maya), mengingatkan manusia untuk kembali kepada keseimbangan spiritual.
“Melalui Sakshi Lila Maya, kami ingin menggambarkan bagaimana kehidupan terus berubah dalam siklus di luar kendali kita sebagai manusia. Ogoh-ogoh ini merupakan pengingat kita untuk tidak terjebak dalam ilusi duniawi dan kembali pada nilai-nilai spiritual yang sejati,” ujar I Made Deny Arsana Putra, Arsitek Utama Sakshi Lila Maya sekaligus Artis dari Nuanu Art Village.
Selain itu, Ogoh-Ogoh Catur Datu karya Banjar Beraban melambangkan empat elemen utama dalam kehidupan: Api, Air, Tanah, dan Udara. Ogoh-Ogoh ini menjadi simbol pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin nyata di era modern.
“Kami ingin menyoroti keseimbangan yang harus dijaga antara manusia dan alam. Dengan semakin banyaknya tantangan lingkungan, penting bagi kita untuk memahami bahwa harmoni dengan alam adalah kunci keberlanjutan.” Jelas I Wayan Wira Adiputra, Arsitek Utama Catur Datu sekaligus Artis dari Nuanu Art Village.
*Seni sebagai Sarana Refleksi dan Harmoni Budaya*
Partisipasi aktif Nuanu dalam tradisi Nyepi mengajak komunitas global untuk mendukung pelestarian budaya Bali dan turut serta dalam memahami filosofi mendalam di balik ritual ini. Lebih dari sekadar ekpresi seni, Ogoh-Ogoh adalah cerminan dari kondisi dunia, pengingat akan keseimbangan yang harus dijaga, serta jembatan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk saling belajar dan menghargai perbedaan.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan peluang untuk membangun harmoni dan kebersamaan. Dengan semangat gotong royong, tradisi dapat terus berkembang dan membawa pesan yang lebih luas bagi generasi mendatang. (**)








