“Ketegangan geopolitik yang kian memanas hingga potensi terjadinya perang dunia III pecah akibat serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai akan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian global dan regional. Lantas, hal apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat di tengah kondisi seperti ini?”
DENPASAR | Beritabalionline.net – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru seiring memanasnya konflik antara Israel dan Iran. Serangan udara intens, evakuasi massal, dan pernyataan-pernyataan keras dari para pemimpin kedua negara menjadi berita utama, menandai babak yang semakin berbahaya dalam perseteruan regional yang berlangsung selama ini.
Ketegangan antara Israel dan Iran memasuki babak baru dengan eskalasi konflik yang semakin memanas pasca-serangan udara Israel ke wilayah Iran pada Jumat (13/6/2025).
Sebagai respons langsung, Iran meluncurkan serangkaian rudal balistik ke wilayah Israel, menghantam sejumlah kota besar termasuk Haifa dan Tel Aviv. Dilaporkan, serangan tersebut menewaskan beberapa orang termasuk anak-anak dan ratusan orang lainnya luka-luka.
Apakah Perang Dunia III sudah di depan mata mengingat banyak konflik hebat saat ini terjadi? Sudah ada pakar yang memberi peringatan terkait situasi geopolitik dunia yang makin tidak stabil.
“Bencana besar sering tak terpikirkan sampai terjadi. Di saat situasi memburuk, inilah waktu mengakui bagaimana konflik global yang tak terpikirkan sudah dekat. Jika perang muncul di beberapa lokasi di Eropa dan Asia, Washington dan sekutunya mungkin tidak menang,” kata Robert Gates, mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat.
Rusia mengejutkan dunia dengan menyerang Ukraina. Sedangkan Israel bertempur melawan Hamas dan dikhawatirkan merembet. Kelompok milisi yang didukung Iran seperti Houthi, berbekal serangan drone, merepotkan persenjataan barat yang canggih.
Korea Utara tiba-tiba mengakhiri perundingan perdamaian dengan Korea Selatan dan meningkatkan uji coba rudal barunya, beberapa di antaranya hulu ledak nuklir yang dapat menjangkau Amerika Serikat.
Dan China terus memperkuat armadanya di Laut China Selatan, serta bisa saja menyerang Taiwan. Di tengah semua itu, jaringan perdagangan yang menopang perekonomian global, terutama pasokan chip silikon dan mineral langka namun penting, mulai terfragmentasi.
Jadi, apa kita menuju Perang Dunia III? “Jawabannya belum pasti. Di satu sisi, besarnya biaya perang dan risiko kehancuran yang tak terhindarkan bagi kedua belah pihak tampaknya makin tinggi. Di sisi lain, negara seperti Korea Utara dan Iran tak dapat dipercaya untuk bertindak rasional,” kata Profesor Andrew Dorman dari lembaga pemikir strategis Chatham House.
“Jika banyak orang tidak menyadari betapa dekatnya dunia ini dengan kehancuran akibat konflik yang sengit dan saling terkait, mungkin itu terjadi karena mereka lupa bagaimana perang global terakhir terjadi,” kata Gates. Di Perang Dunia, negara-negara mendadak bersatu untuk lebih kuat di konflik global.
Masyarakat Tetap Waspada
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, situasi global saat ini menimbulkan ketidakpastian yang tinggi dan dapat memicu gejolak di berbagai sektor, termasuk sektor keuangan dan energi.
“Melakukan yang terbaik di bidang masing-masing untuk tetap produktif secara ekonomi,” kata Wijayanto Samirin kepada Liputan6.com, Senin (23/6/2025).
Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan keuangan, terutama dalam investasi berisiko tinggi dan pinjaman dengan bunga besar. Selain itu, Wijayanto mendorong masyarakat untuk mengembangkan semangat kewirausahaan agar tetap dapat menciptakan peluang di tengah tantangan ekonomi.
“Berhati-hati melakukan investasi berisiko dan melakukan pinjaman dengan bunga tinggi. Dorong semangat entrepreneurship, karena peluang luas justru ada di sana,” ujarnya.
Menurut Wijayanto, meski tekanan geopolitik meningkat, masyarakat tetap dapat bertahan dan berkembang jika mampu mengelola risiko dengan bijak dan tetap fokus pada produktivitas di bidang masing-masing.
Adapun jika perang dunia ketiga benar-benar terjadi, menurut Wijayanto akan sangat berdampak buruk untuk berbagai aspek, terutama ekonomi. Menurutnya, jika risiko global meningkat, sektor keuangan bergejolak, harga energi melejit dan inflasi naik.
Ia menambahkan dalam situasi seperti ini, para investor cenderung menahan diri, perdagangan global akan menurun, dan pertumbuhan ekonomi dunia semakin melambat. Selain itu, harga minyak dan komoditas energi lainnya diperkirakan akan meningkat, sementara harga komoditas non-energi justru bisa menurun.
“Harga minyak dan komoditas energi akan meningkat (batubara, Gas, CPO), tetapi komoditas non energi (mineral/tambang) justru berpotensi turun, karena demand turun,” ujar Wijayanto.
Menurutnya, meski ada potensi eskalasi konflik, ia tidak yakin situasi ini akan memicu Perang Dunia ke-3. Namun demikian, ketidakpastian dan dampak ekonomi dari ketegangan ini tetap harus diwaspadai, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. (sas)








