KARANGASEM, BERITABALIONLINE.net – Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali menegaskan komitmennya dalam menata kawasan Pura Agung Besakih secara menyeluruh. Penataan ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menjaga nilai spiritual sebagai pusat pemujaan umat Hindu di Bali.
Dalam sebuah dialog yang digelar di kawasan Besakih, Kamis (23/4), Koster menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap Besakih. Ia menegaskan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar destinasi wisata, melainkan tempat suci untuk bersembahyang dan memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Menurutnya, tahap awal penataan kawasan telah berhasil menciptakan suasana yang lebih tertib dan nyaman. Penataan parkir, kebersihan, hingga disiplin pengunjung kini menunjukkan hasil positif. Ia bahkan mengungkapkan bahwa perubahan perilaku masyarakat terlihat nyata, terutama dalam menjaga kebersihan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Koster juga menyebut pengelolaan kawasan kini diarahkan lebih profesional, tanpa menghilangkan nilai-nilai spiritual. Sistem pengelolaan yang tertib dan rapi dianggap penting untuk menjaga kenyamanan pemedek yang datang bersembahyang.
Memasuki tahap berikutnya, Pemerintah Provinsi Bali akan memprioritaskan restorasi kawasan Parahyangan. Sebanyak 26 pelinggih yang mengalami kerusakan akan diperbaiki secara menyeluruh. Dari jumlah tersebut, tujuh pelinggih telah rampung direstorasi, sementara sisanya akan dikerjakan tahun ini dengan anggaran mencapai Rp203 miliar.
Koster menilai kondisi pelinggih yang rusak, lapuk, hingga berjamur tidak pantas bagi pura terbesar di Bali. Ia menegaskan bahwa seluruh proses restorasi harus mengikuti pakem dan warisan leluhur, termasuk penggunaan material serta gaya ukiran yang sesuai dengan karakter masing-masing pelinggih.
“Tempat suci harus dijaga dengan penuh ketulusan, bukan berdasarkan selera atau kepentingan pribadi,” tegasnya.
Selain itu, tahap lanjutan penataan akan difokuskan pada peningkatan akses menuju Besakih. Pemerintah berencana memperlebar jalur dan membuka akses baru dari berbagai wilayah di Bali, termasuk jalur melalui Kintamani, guna mengurangi kemacetan yang kerap terjadi saat hari besar keagamaan.
Program pengembangan infrastruktur ini dijadwalkan mulai 2027 dengan melibatkan pembiayaan kolaboratif dari sejumlah pemerintah kabupaten/kota di Bali.
Di sisi lain, Koster juga mengapresiasi kinerja Badan Pengelola Kawasan Besakih yang kini mampu membiayai operasional secara mandiri. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas dan menghindari praktik yang menyimpang dalam pengelolaan kawasan.
Bagi Koster, keberhasilan penataan Besakih akan menjadi model untuk pengelolaan pura-pura besar lainnya di Bali, termasuk Pura Ulun Danu Batur.
Ia menegaskan bahwa menjaga kesucian pura sama artinya dengan menjaga warisan budaya dan peradaban Bali agar tetap lestari di masa depan. (*/bbo)






