DENPASAR, BERITABALIONLINE.net – Meski hingga kini Denpasar sudah memiliki 17 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), namun masih banyak wilayah di Kota Denpasar yang mengalami blank spot zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Menyikapi hal itu, diusulkan agar Denpasar menjajaki pembangunan beberapa SMPN baru. Hal itu terungkap saat rapat dengar pendapat Komisi III dan Komisi IV DPRD Denpasar dengan jajaran Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Rabu (3/6/2026).
Dalam rapat yang dipandu Ketua Komisi III, I Wayan Suadi Putra, didampingi Wakil Ketua Komisi IV, I Nyoman Sumardika, juga dihadiri Wakil Ketua DPRD, I Wayan Mariyana Wandhira, IB Yoga Adi Putra, Made Oka Cahyadi Wiguna, serta sejumlah anggota Komisi III dan IV. Sedangkan dari eksekutih hadir Kadisdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, didampingi Kabid SD Disdikpora, I Nyoman Suriawan dan Kabid Pembinaan SMP, IB Suryadana.
Ada beberapa poin yang disampikan dalam rapat tersebut. Salah satunya usulan pembangunan SMPN baru, seperti yang dipaparkan Ketua Komisi III, I Wayan Suadi Putra. Menurutnya, saat ini masih ada daerah yang belum terjangkau sistem zonasi. Dia mencontoh kawasan Sanur ada lima banjar yang blank spot zonasi, sehingga muncul masyarakat agar dibangun sekolah baru. Di samping itu sudah ada tanah di belakang RS Bali Mandara seluas sekitar 40 are. Saat ini tiga kawasan Sanur tidak semuanya tertampung di SMPN 9. Kemudian SMPN 6 dari posisi sekolah, ini terdampak bagi masyarakat sesetan dan Pemogan bagian utara. ‘’Terakhir tentang SMPN 11 yang selama ini untu masyrakat Serangan dan Pemogan, dari segi pemetaan juga mengalami kondisi serupa. Termasuk juga di kecamatan yang lain,’’ ujar Suadi Putra.
Menanggapi hal itu, Kadisdikpora Denpasar, AA Gede Wiratama mengakui masih ada wilayah yang blank spot zonasi PPDB. Terkait usulan pembangunan sekolah baru, dia mengatakan sudah sring disampaikan anggota Dewan. Pihaknya pun sudah berusaha mencari lahan. ‘’Karena karena selama ini kami terbenturnya di masalah lahan. Mengingat banyak sekolah-sekolah kita yang tak sesuai, terutama yang kita bangun di daerah-daerah blank spot, seperti Imam Bonjol, Sanur Kauh, termasuk Panjer. Termasuk Padangsambian, Pemecutan khususnya wilayah Pemeregan dan sekitar setra. Untuk mewujudkan sekolah baru kami sudah mengukur beberapa lokasi, hanya saja tidak sesuai, termasuk luasnya karena kurang dari 30 area.
Terkain penambahan rombel, Agung Wiratama mengatakan, jika sebelumnya sekolah tidak berlantai sekarang dibangun berlantai. Pola ini diharapkan menambah jumlah rombel untuk di SD dan SMP. ‘’Selain itu kami juga sudah mulai melakukan penataan, sehingga ke depan tidak ada lagi dobel shif. Berapa pun siswa yang tamat bisa ditampung sesuai rombel-rombel yang ada. Terkait dengan adanya lahan di belakang RS Bali Mandara kami sangat berterima kasih jika nanti itu diusulkan untuk pembangunan sekolah baru,’’ ujarnya. (bbo/kar)






