FPRMI Komitmen Jaga Kualitas Jurnalisme di Tengah Pengaruh Algoritma Platform Digital

oleh
oleh
Ketua Umum FPRMI, Bernadus Wilson Lumi, saat memotong tumpeng pada gala dinner peringatan HUT ke-3 FPRMI di Ballroom DPD RI Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (17/7/2026). (FOTO: Istimewa/dok)

YOGYAKARTA, BBO.net – Disrupsi digital yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi menjadi perhatian utama dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Pemimpin Redaksi Media Indonesia (FPRMI). Organisasi yang menghimpun para pemimpin redaksi dari berbagai daerah di Indonesia itu menegaskan komitmennya menjaga kualitas jurnalisme di tengah persaingan media yang semakin dipengaruhi algoritma platform digital.

Peringatan HUT FPRMI digelar di Gedung DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (17/7/2026), diawali dengan gala dinner dan pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum FPRMI Bernadus Wilson Lumi bersama jajaran pengurus dari berbagai provinsi. Acara tersebut juga dihadiri anggota DPD RI, perwakilan Dewan Pers, serta sejumlah pemangku kepentingan di bidang media dan komunikasi.

Ketua Umum FPRMI Bernadus Wilson Lumi mengatakan, memasuki usia tiga tahun, organisasi yang dipimpinnya tetap konsisten memperjuangkan kepentingan perusahaan media dan insan pers di Indonesia. Menurutnya, tantangan industri media saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu sehingga diperlukan solidaritas antarpelaku pers.

“Meski baru tiga tahun, kami akan terus berjuang. FPRMI tetap berjalan pada koridor yang benar dan lurus. Bersama rekan-rekan dari seluruh Indonesia, kami ingin memastikan media massa memiliki harapan hidup yang lebih baik, baik saat ini maupun di masa mendatang,” ujar Bernadus.

Ia menilai transformasi digital telah mengubah lanskap bisnis media sekaligus pola konsumsi informasi masyarakat. Karena itu, media dituntut tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga tetap mempertahankan independensi dan fungsi kontrol sosial sebagai salah satu pilar demokrasi.

Pandangan senada disampaikan Anggota DPD RI asal DIY, Syauqi Soeratno. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi digital, media massa tetap memiliki peran strategis sebagai sarana pendidikan publik, pemberi pencerahan, sekaligus penyampai informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Soeratno menjelaskan, dahulu masyarakat memperoleh informasi melalui media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televisi yang memiliki mekanisme penyaringan editorial. Kini, media sosial memungkinkan setiap orang menjadi produsen informasi. Meski membuka ruang demokratisasi informasi, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan berupa maraknya penyebaran informasi yang tidak melalui proses verifikasi maupun kaidah etik jurnalistik.

Dalam forum tersebut juga mengemuka fenomena yang disebut sebagai “tantangan konten enam detik”, yakni perubahan perilaku audiens akibat algoritma media sosial. Sistem rekomendasi platform digital dinilai membuat perhatian pengguna semakin singkat sehingga produsen konten dipaksa menarik perhatian hanya dalam hitungan detik. Jika pengguna bertahan sekitar enam detik pada suatu konten, algoritma akan menganggapnya sebagai minat dan terus menyajikan konten serupa.

Fenomena itu, menurut Soeratno, menjadi tantangan serius bagi media arus utama maupun lembaga-lembaga publik dalam menyampaikan informasi yang bersifat substantif. Pesan-pesan penting kini harus bersaing dengan konten pendek yang lebih mudah menarik perhatian publik.

Sementara itu, Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto menegaskan bahwa disrupsi digital tidak boleh menggeser esensi jurnalisme. Menurut keduanya, media massa nasional tidak cukup hanya mengejar lalu lintas kunjungan (traffic), tetapi harus tetap mengedepankan kualitas, akurasi, keberimbangan, dan kredibilitas informasi.

Yogi menambahkan, di tengah meningkatnya keterhubungan masyarakat global, media nasional memiliki tanggung jawab besar menghadirkan pemberitaan yang mampu menjelaskan berbagai isu internasional secara objektif dan mendalam. Pers yang sehat, katanya, harus mampu memperkuat posisi bangsa melalui informasi yang terpercaya sekaligus memastikan suara daerah tetap mendapat ruang dalam percakapan nasional.

Momentum HUT ke-3 FPRMI pun menjadi refleksi bahwa masa depan industri media tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kemampuan insan pers mempertahankan integritas jurnalistik. Di tengah perubahan algoritma yang terus bergerak cepat, independensi, profesionalisme, dan kepentingan publik dinilai tetap menjadi fondasi utama agar pers Indonesia tidak kehilangan arah. (*/bbo)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.