Tenaga Medis Diduga Tak Profesional, Rumah Sakit Swasta di Tabanan Dilaporkan ke Polisi

oleh
oleh
Tisa Irmaningtyas (tengah) didampingi kuasa hukum usai membuat laporan ke Polda Bali. (FOTO: BBO/Ist)

Beritabalionline.net – Salah satu rumah sakit swasta di Tabanan, RSKI dilaporkan ke Polda Bali karena diduga tidak profesional kala menangani seorang pasien bernama Harry S Dewono (69), yang akhirnya meninggal dunia.

“Langkah ini kami ambil untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tidak dilami oleh masyarakat lain,” terang Waldy Chaly Jonathan Hukom dan Dewi Nilam Putri Larasati selaku kuasa hukum Tisa Irmaningtyas yang merupakan anak almarhum, Sabtu (30/9/2023) di Denpasar.

Laporan tentang Tindak Pidana Kesehatan dan Perlindungan Konsumen tersebut dilakukan, Rabu (27/9/2023) dikarenakan tidak ada permintaan maaf dari managemen rumah sakit.

Waldy mengungkapkan, pihak keluarga melihat banyak kejanggalan ketika petugas rumah sakit melakukan penanganan. Seperti tidak membawa alat medis, pemeriksaan mata pakai senter handphone, memasang masker hingga pasien sempat diabaikan di RS.

Upaya komunikasi antara keluarga almarhum dengan manajemen dan pimpinan rumah sakit mentok. Bahkan Direktur Rumah Sakit yang memiliki kantor di Denpasar itu juga terkesan membela diri. 

“Untuk menghindari kejadian serupa, langkah hukum kemudian kami ambil. Kami sudah somasi tapi jawabannya melenceng dari substansi. Karena itu kami lapor,” bebernya.

Hal yang sama juga dikatakan Dewi Nilam Putri Larasati, bahwa kliennya membayar jasa terkait pihak medis yang datang kediaman almarhum. 

“Laporan kami tentang Tindak Pidana Kesehatan dan Perlindungan Konsumen disertai banyak bukti. Kami berharap pihak Ditreskrimsus segera menangani kasus tersebut,” kata Larasati. 

Di tempat yang sama anak almarhum, Tisa Irmaningtyas menjelaskan bahwa peristiwa berawal ketika ayahnya jatuh sakit, Selasa (18/7/2023). 

Karena mengeluh sakit di dada dan keringat dingin, ayahnya dibawa ke RSBR Tabanan sekitar pukul 20.30 Wita oleh ibunya, sedangkan ia menunggu di rumah bersama anak-anaknya. 

Di IGD rumah sakit, tenaga medis langsung melakukan pemeriksaan EKG dan tekanan darah. Di sana dokter menyatakan ayahnya baik-baik saja. Di mana tidak terdeteksi penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes jantung dan penyakit lainnya.

“Saat itu keadaan papa baik-baik saja dan diperbolehkan pulang. Walaupun demikian, dokter menyarankan agar pasien dibawa ke rumah sakit lebih memadai yang memiliki dokter spesialis jantung, termasuk melakukan check up,” tuturnya.

Ayahnya lalu dibawa pulang ke rumahnya di kawasan Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan sekitar pukul 21.30 Wita dan langsung istirahat di kamar. Saat itu almarhum sempat mengatakan mungkin dirinya masuk angin.

Namun tak lama di rumah, almarhum mengaku kesakitan di dada dan mengalami keringat dingin sekitar pukul 21.49 Wita. Sang ibu dan saudara-saudaranya sepakat membawanya ke rumah sakit terdekat.

Lantaran almarhum tidak bisa jalan dengan normal, keluarga memutuskan untuk memanggil ambulans guna mendapatkan pertolongan pertama di rumah.

Pilihannya adalah RSKI Tabanan karena yang paling dekat. Suami pelapor lalu menghubungi rumah sakit dan meminta tenaga medis, sekaligus penjemputan menggunakan ambulans. 

“Upaya tersebut direspon setelah keluarga lima kali menghubungi pihak rumah sakit melalui telepon,” bebernya.

Dikatakan, sembari menanti petugas medis dan ambulans, keluarga tetap memantau keadaan almarhum yang terus mengeluh kedinginan dan badannya terasa tidak enak. 

Almarhum juga sempat meminta bantuan untuk ke kamar mandi karena sebelumnya telah buang air kecil di kasur. Usai dari kamar mandi, almarhum kembali ke tempat tidurnya dan tetap mengeluh kedinginan dan kepanasan.

Sekitar pukul 22.51 Wita, almarhum mulai tidak sadar. Saat itu keluarga dihubungi oleh pihak rumah sakit bahwa ambulans tidak menemukan alamat rumah. Petugas medis dan mobil ambulans akhir tiba pada pukul 23.00 Wita.

“Dua petugas medis lalu berusaha membangunkan papa tanpa membawa peralatan medis. Saya punya pengalaman jadi relawan. Bukan seperti itu cara petugas medis bekerja,” terangnya.

Karena tak membawa alat medis, dirinya berlari ke ambulans. Tujuannya meminta sopir untuk memanggil tenaga medis lainnnya dan membawa peralatan medis yang dibutuhkan ke kamar papanya.

Ketika berada di luar rumah, ambulans berada di ujung jalan. Ia kembali berlari ke lantai dua untuk menanyakan kepada petugas medis tentang SKSN (Peralatan Medis sesuai SOP mobil Ambulance), akan tetapi mereka tidak menjawab satu katapun. 

Para petugas medis ini sempat mengenakan oximeter pada jari tangan dan memeriksa mata almarhum dengan menggunakan cahaya lampu telepon genggam. 

“Mereka tidak membawa stetoskop untuk melakukan pemeriksaan. Sekitar pukul 23.15, petugas medis menyatakan papa saya sudah meninggal,” tuturnya.

Almarhum lalu dibawa turun dari kamarnya oleh 2 tenaga medis, supir ambulans dan dibantu oleh pihak keluarga dengan menggunakan tandu. Dalam perjalanan, salah seorang tenaga medis memasangkan masker 

oksigen. 

Saat itu mamanya langsung bertanya jika sudah meninggal untuk apa dipasangkan masker oksigen, dan dijawab oleh tenaga medis sebagai formaliitas.

Masker oksigen tersebut baru dilepas oleh petugas medis sesampai di IGD Rumah Sakit sekitar pukul 23.21 Wita. Sampai di sana, almarhum didiamkan tanpa adanya satu penanganan.

“Beberapa saat kemudian ada dokter 

jaga IGD baru melakukan pemeriksaan, dan kemudian dokter jaga itu mengatakan papa sudah meninggal,” jelasnya.

Terpisah Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Bali Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan membenarkan terkait adanya laporan, serta mengatakan pihaknya akan mendalami terlebih dahulu pengaduan tersebut.

“Anggota masih melakukan penyelidikan. Jika sudah ada perkembangan, kami akan sampaikan ke rekan media,” ucapnya ketika dikonfirmasi awak media di Denpasar. (agw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.