Di Balik Cerita Mistis Musibah Tenggelamnya Kapal di Selat Bali

oleh
oleh
Beginilah kondisi perairan Selat Bali saat cuaca sedang tidak bersahabat, mengerikan. (FOTO: Ist)

Dalam sepekan terakhir, Selat Bali menjadi episentrum pemberitaan dan perhatian nasional pasca-tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada Jumat (4/7/2025) tengah malam lalu.

DENPASAR, BERITABALIONLINE.net – Selat Bali menjadi batas alam antara dua pulau besar di Indonesia yakni Jawa dan Bali, memiliki peran strategis yang tidak hanya penting secara geografis, tetapi juga dari sisi transportasi, ekonomi, hingga pariwisata.

Selat ini menghubungkan langsung Pulau Jawa bagian timur dengan Pulau Bali bagian barat, menjadikannya jalur laut vital bagi mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik antarpulau.

Mengutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, perairan ini menjadi salah satu batas wilayah Provinsi Bali di wilayah barat.

Secara geografis, Selat Bali memiliki lebar maksimal mencapai 82 kilometer dengan kedalaman rata-rata antara 50 hingga 60 meter.

Selat ini menghubungkan dua pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi (Jawa Timur) dan Pelabuhan Gilimanuk di Jembrana (Bali). Keduanya menjadi titik sentral penyeberangan bagi ribuan kendaraan dan penumpang setiap harinya.

Selain dua pelabuhan besar tersebut, kawasan Selat Bali juga memiliki pelabuhan rakyat seperti Pelabuhan Ikan Muncar di Banyuwangi. Pelabuhan ini dikenal sebagai salah satu pusat pengalengan ikan terbesar di Indonesia.

Di sisi pariwisata, beberapa titik yang populer dari perairan Selat Bali di antaranya Bangsring Underwater (Bunder) yang terletak di Desa Bangsring, Banyuwangi, serta Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat.

Di balik kejadian demi kejadian tenggelamnya kapal di Selat Bali, tersimpan cerita-cerita mistis. Tersimpan pula mitos tentang selat Bali di masyarakat, utama di kalangan nelayan pesisir Banyuwangi dan Gilimanuk.

Mitos itu juga terus hidup dalam ingatan masyarakat pesisir. Tak sedikit yang percaya bahwa Selat Bali bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan pintu gerbang dimensi lain, tempat dimana penunggu laut menjaga batas antara dua pulau suci (Jawa dan Bali).

Beberapa nelayan dan nakhoda kapal mengaku sering mengalami perubahan arus tiba-tiba yang tidak tercatat oleh alat navigasi modern.

“Kami sudah pelajari arus lewat radar. Tapi di tengah laut, tiba-tiba kapal seperti diseret. Seperti ada kekuatan tak kasat mata,” ujar Pak Ngurah, seorang nelayan tua asal Melaya, Kabupaten Jembrana, seperti dikutip halojember.com.

Ahli kelautan menyebut arus di Selat Bali sebagai bagian dari “Indonesian Throughflow”, tapi perubahan secepat itu tetap dianggap tidak lazim.

Warga Bali percaya bahwa laut di Selat Bali adalah bagian dari alam niskala — alam roh yang tak terlihat. Dalam kepercayaan lokal, laut ini adalah jalan pulang bagi roh-roh yang belum sempurna.

Setiap tahun, digelar ritual Melasti atau Nyegara Gunung, untuk memohon keselamatan laut dan menenangkan “penguasa laut” yang diyakini sebagai Dewi Danu dan Batara Baruna.

Kisah Kapal yang Hilang Tanpa Jejak

Beberapa kasus kapal tenggelam secara misterius di Selat Bali tercatat, di antaranya Kapal nelayan Sari Laut (2003) yang hilang dalam cuaca cerah, dan tidak pernah ditemukan bangkainya.

Berikutnya adalah kasus tenggelamnya KMP Rafelia II (2016), di mana penumpang yang selamat mengaku mendengar suara tangisan perempuan sebelum kapal oleng.

Kasus yang paling anyar adalah musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya (2025).

Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya rute Ketapang Banyuwangi menuju Gilimanuk tenggelam sekitar 25 menit setelah lepas jangkar, pada Rabu (2/7/2025) pukul 22.56 WIB.

Menurut salah satu ABK Tunu Pratama Jaya, sesaat sebelum KMP Tunu Pratama tenggelam (hanya dalam hitungan sekitar 5 menit), kapal seolah ditarik oleh satu kekuatan besar dari bawah atau dasar laut. Padahal, peralatan berjalan normal sebelum blackout.

Mitos Penunggu Laut: “I Ratu Segara”

Dalam cerita rakyat Bali dan Jawa Timur, Selat Bali disebut dijaga oleh makhluk gaib yang disebut “I Ratu Segara” atau “Ratu Kidul dari Timur”. Ia digambarkan sebagai penjaga batas antara dua dunia, dan tidak segan mengambil tumbal jika laut merasa “terganggu”.

Meskipun teknologi maritim berkembang pesat, banyak fenomena di Selat Bali tetap tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Contohnya, kehilangan sinyal GPS secara tiba-tiba.

Gangguan mesin di titik-titik tertentu, dan hilangnya bangkai kapal bahkan di perairan dangkal.

Selat Bali adalah pertemuan antara dua dunia: alam nyata dan alam tak kasat mata.

Masyarakat pesisir percaya bahwa keselamatan tidak hanya ditentukan oleh mesin dan cuaca, tapi juga oleh hubungan manusia dengan kekuatan tak terlihat.

Ilmu bisa menjelaskan ombak dan arus, tapi tidak semua bisa diterangkan logika. Di sinilah mitos Selat Bali tetap hidup—antara keyakinan, kearifan lokal, dan misteri abadi. (sas)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.