DENPASAR, BERITABALIONLINE.net – Menteri Agama (Menag) Prof. Nasaruddin Umar turut hadir pada malam puncak peringatan Hari Bakti Pertiwi Widyalaya ke-2 Tahun 2026 yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali.
“Malam ini sangat istimewa karena kita memperingati tonggak sejarah pendidikan Hindu di Indonesia,” ucap Menag dalam sambutan, Kamis (12/2/2026) malam di Aula Taman Asoka Universitas Hindu Indonesia, Denpasar.
Dikatakan, Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya yang ditetapkan setiap tanggal 13 Februari merupakan momentum pengakuan resmi operasional Widyalaya sebagai satuan pendidikan umum dengan kekhasan agama Hindu.
Dengan tema “Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya”, kita menegaskan komitmen bahwa melalui karya nyata di bidang pendidikan, kita sedang membangun kejayaan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Widyalaya bukanlah sekadar tuntutan administratif, melainkan sebuah jawaban atas kegelisahan kita bersama.
“Selama ini dunia pendidikan kita terlalu lama didominasi oleh orientasi yang melulu mengejar aspek kognitif angka di atas kertas, kecerdasan tanpa karakter. Padahal, cinta adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan menyatukan umat manusia dalam harmoni,” tuturnya.
Menteri Agama meminta agar jangan sampai hanya mengajarkan agama, tetapi tanpa sadar justru menanamkan benih kebencian kepada mereka yang berbeda.
Oleh karenanya kurikulum ini hadir untuk menghadirkan titik-titik kesadaran universal, membangun peradaban dengan cinta sebagai fondasinya.
“Kita ingin spiritualitas kembali menjadi roh pendidikan kita. Termasuk di dalamnya adalah kesadaran Ekoteologi; sebuah pemahaman mendalam bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas alam, melainkan bagian integral dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Dijelaskan, teologi ini harus melahirkan logos (pemikiran) yang kemudian berbuah menjadi habit (kebiasaan). Jika ini terwujud, maka akan membentuk generasi yang kuat dalam moral, lembut dalam sikap, dan kokoh dalam kebersamaan.
Dalam perspektif Hindu yang adiluhung, konsep cinta dimulai dari cinta kepada Tuhan sebagai sumber segala cinta. Cinta tersebut mewujud dalam praktik Bhakti kasih sayang tanpa pamrih kepada-Nya.
Ia bersumber pada kesadaran Tat Twam Asi, bahwa “Aku adalah Kamu”, yang menjadi fondasi cinta kasih universal. Bahkan Kama, sebagai hasrat manusiawi, diarahkan dan diatur agar selaras dengan Dharma.
Implementasi nyata dari cinta ini harus kita lihat dalam nafas Tri Hita Karana: keharmonisan hubungan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan alam (Palemahan). Inilah pondasi utama Widyalaya.
Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali IGM Sunartha dalam sambutan mengatakan, penyelenggaraan Widyalaya berlandaskan Peraturan Menteri Agama Nomor 51 Tahun 2025 tentang Perubahan atas PMA Nomor 2 Tahun 2024.
Di mana menegaskan bahwa Widyalaya adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Hindu, yang dapat didirikan oleh masyarakat maupun pemerintah.
“Regulasi ini juga membuka klausul penegerian Widyalaya yang didirikan oleh masyarakat, sebagai bentuk afirmasi negara terhadap prakarsa umat dan upaya pemerataan layanan pendidikan keagamaan,” tuturnya.
Dijelaskan, di Bali, Widyalaya yang didirikan oleh masyarakat berjumlah sekitar 71 Widyalaya. Namun hingga kini, Widyalaya negeri belum tersedia, sehingga kehadiran negara menjadi kebutuhan yang nyata.
Oleh karena itu, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali siap menindaklanjuti kebijakan ini melalui pendirian Widyalaya negeri dan Widyalaya Pasraman Terintegrasi, baik melalui pendirian baru maupun penegerian Widyalaya masyarakat.
Pendirian awal direncanakan di Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Jembrana, dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah, dengan konsep satu atap dari Pratama hingga Utama Widyalaya, terintegrasi dengan pasraman berpola asrama atau boarding school. (agw)






