Oleh Dewa Sastra D
DENPASAR, BBO.net – Pada Minggu (9/8/2026) pagi, saat membersihkan lemari di rumah, tak dinyana Aku nemu album yang berisi puluhan lembar foto-foto lawas, namun kondisinya masih lumayan bagus baik dari segi warna maupun kertasnya.
Di antara foto-foto yang terkdokumentasi di albumku itu terdapat beberapa lembar foto yang menunjukkan aktivitasku saat melakukan peliputan SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand. Ketika itu Aku masih menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Biro Denpasar.
Sebagai Jurnalis Merah Putih, sudah tentu Aku ingin menunjukkan jati diriku dengan atribut merah putih di hadapan para jurnalis negara lain yang juga melakukan tugas peliputan selama SEA Games berlangsung. Karena itu Aku memutuskan memakai jaket merah putih setiapkali melakukan peliputan di lapangan untuk mendapatkan hasil pertandingan dari masing-masing cabang olahraga (cabor).
Peliputan olahraga adalah salah satu cabang jurnalisme yang paling dinamis dan menuntut. Tidak seperti peliputan politik atau bisnis, jurnalisme olahraga membutuhkan perpaduan unik antara gairah, ketelitian, dan keterampilan interpersonal.
Artinya, seorang reporter olahraga tidak hanya menceritakan apa yang terjadi di lapangan, tapi berita yang dihasilkan wartawan olahraga hendaknya juga mampu menghidupkan drama, strategi, dan emosi di balik setiap pertandingan.
Kembali soal SEA Games 1995 Chiang Mai, pada event bergengsi negara-negara di kawasan Asia Tenggara tersebut, kontingen Indonesia meraih posisi peringkat kedua (runner-up) pada klasemen akhir perolehan medali, dengan mengoleksi total 221 keping medali, terdiri dari 77 medali emas, 67 medali perak, dan 77 medali perunggu. Posisi Indonesia berada di bawah Thailand sebagai juara umum.
Torehan prestasi Kontingen Merah Putih pada 1995 di Negeri Gajah Putih itu sekaligus menjadi arti penting bagi Indonesia yang saat itu berlaga di luar kandang. Capaian posisi runner-up di SEA Games Chiang Mai sempat menjadi tolok ukur historis jangka panjang bagi posisi kedua terbaik Indonesia saat berlaga di luar negeri (tanpa status tuan rumah), yang rekor peringkatnya baru berhasil disamai kembali tiga dekade kemudian pada SEA Games 2025 di Thailand.
Untuk diketahui, Chiang Mai mencatat sejarah kali pertama SEA Games diselenggarakan di kota yang bukan menjadi ibu kota negara tuan rumah. Chiang Mai adalah provinsi terbesar kedua di Thailand yang terletak di wilayah utara. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Kota Bangkok. Kawasan Chiang Mai dijuluki “Mawar dari Utara” karena keindahan alam pegunungannya, kekayaan budaya Lanna kuno, dan suasana kotanya yang ramah.
SALAM OLAHRAGA.
Jaya! Jaya! Jaya!!! ✊️✊️







